Tampilkan postingan dengan label #materi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #materi. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Mei 2020

Mengulang Elipsis bagi Pemula



Hallo, pasti sudah tidak asing lagi dengan elipsis. Setelah kemarin aku post tentang elipsis, asportof dan separator, kini aku bakal mengulang elipsis lagi. Kenapa? 
Karena ternyata elipsis mempunyai fungsi yang bermacam-macam dan lebih rinci.


Sebenarnya satu tahun lalu, materi ini sempat dibahas oleh temen admin keceku--kayus yang kayak bidadari katanya, di salah satu grup menulisku dan baru sempat untuk di edit (maklum, sempet jenuh dg nulis dan fokus pindah tempat kerja hehe). Jadi, alhasil baru kembali bisa menghidupkan blog yang mulai berdebu ini.



Pada umumnya, elipsis ditulis dalam sebuah dialog dengan diawali dan diakhiri jeda. Di bawah ini, kita bakal bahas lagi pembagian elipsis berdasarkan fungsinya agar lebih mudah.



1. Jika bertujuan untuk menghilangkan kata atau kalimat maka;

*Elipsis harus diberi spasi sebelum-sesudah*
Contoh:
"Bisa jadi ... ini pemicunya."

Maksud sebenarnya adalah,
"Bisa jadi alat ini pemicunya."


Kata alat dihilangkan dan diganti dengan elipsis.



2. Jika bertujuan sebagai tanda baca untuk menyatakan ekspresi, maka;

*Elipsis tidak diberi spasi*
Contoh:
a. Ada kata yang dipotong
"Aku tidak tahu bagaimana menyam..."
"Aku saja yang menyampaikan."

b. Kalimat menggantung
"Entahlah...."

c. Ekspresi ragu
"Mmm..., aku tidak yakin bisa."

d. Ekspresi gagap
"Ka...ka...kamu, bagaimana kamu tahu?"

e. Adegan seolah-olah akan sunyi, tetapi ternyata ada adegan selanjutnya.
Tiba-tiba...
Brak!
Terdengar pintu yang ditutup keras.

f. Ekspresi tertawa
"Hahaha..., kamu bercanda."
(Seolah tawa tidak berhenti dan dibarengi dialog)

"Hahaha.... kamu bercanda."
(Seolah tawa sempat terhenti sebelum.dilanjutkannya percakapan)





Begitulah kira-kira pembagian elipsis. Semoga bermanfaat, ya..

Sabtu, 01 Februari 2020

Elipsis, Asportof dan Separator bagi Pemula yang Wajib diketahui

Bagi kalian pemula dalam dunia menulis, kalian akan mengenal tentang elipsis, Asportof dan separator. Ketiga tanda baca tersebut seringkali dijumpai dalam sebuah dialog cerita.

Jadi, apa itu elipsis, Asportof dan separator?


A. Elipsis (...)
Tanda elipsis (titik tiga) dipakai untuk menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau kutipan ada bagian yang dihilangkan.


Misalnya:
> Penyebab dia putus itu ... seperti yang lalu.
> Kami, bangsa Indonesia menyatakan ... hal-hal yang mengenai ... yang sesingkat-singkatnya.



*Tanda elipsis juga dipakai untuk menulis ujaran yang tidak selesai dalam dialog.

Misalnya:
> "Dia itu ... mungkin kalau ... tidak seperti ini."


Catatan:
(1) Tanda elipsis itu didahului dan diikuti dengan spasi.
(2) Tanda elipsis pada akhir kalimat diikuti oleh tanda titik (jumlah titik empat buah).
Misal,
"Aku tahu .... "

Sumber : PUEBI-2



B. Asportof (')
Asportof merupakan tanda penyingkat digunakan untuk menunjukkan penghilangan bagian kata atau bagian angka tahun dalam konteks tertentu.


Contoh :
1. "Kamu tahu, 'kan?" ('kan = bukan)
2. "milea 'kan kudapat. ('kan = akan)
3. Mereka 'lah datang. ('lah = telah)
4. 17-08-'45 ('45 = 1945)

Sumber : PUEBI-2



C. Separator (***)
Separator digunakan sebagai penunjuk perpindahan tempat, sudut pandang dan suasana. Biasanya ditulis dengan bintang tiga.


Misal,


Dru bergeming. Ia tak tahu lagi harus bagaimana. Polisi sudah berdatangan menjempunya sore itu. sekolah yang tadinya sepi kini sudah ramai dikunjungi berbagai orang yang sekadar melihat siapa sosok pembunuh selama ini. Mau membela diri pun ia sudah kepalang basah. Tak ada gunanya.

***

Mika menghampiri Reya yang sudah mendapatkan penanganan. Laki-laki itu harus mendapat enam jahitan di bahunya akibat ulah Dru. Belum lagi tangan kanannya yang kini digips akibat patah saat melawan temannya itu.


Kamis, 13 Juni 2019

Mengenal Swasunting Bagi Penulis Pemula

Apa, sih, Swasunting itu?



Swasunting sendiri sebuah proses yang perlu dilakukan oleh tiap penulis setelah menyelesaikan draf tulisan. Proses ini bisa meliputi pengecekan tipo, kesesuaian tata bahasa, kejanggalan, ambiguitas, kesinambungan antara satu bagian dengan bagian lain, dan masih banyak lagi.


Singkatnya, swasunting adalah kesempatan melihat kekurangan, memoles, dan memberi nilai tambah pada tulisan yang sudah diselesaikan.


Sebagus apa pun materi yang disampaikan, jika tidak ‘dibungkus’ dengan penulisan yang rapi, kecil kemungkinan akan disukai orang lain. Jangankan disukai, dilirik pun tidak. Sebaliknya, tulisan biasa yang disajikan dengan baik justru akan mampu menarik perhatian.


Ada beberapa tip dan trik yang bisa dicoba.
1. Lakukan penyuntingan setelah merampungkan tulisan. Sebab, menulis dan menyunting pada saat yang bersamaan akan membuat tulisan tidak kunjung terselesaikan.

2. Pastikan untuk tidak jatuh cinta pada karya sendiri. Sebab, hal itu cenderung membuat kita berpikir bahwa tidak ada hal yang perlu diubah lagi dalam naskah. Ketika ada yang memberi masukan positif, kita tolak. Kita sudah dibutakan oleh kekaguman pada tulisan sendiri, padahal belum tentu orang lain melihat karya kita sebagus itu.

Jadi, bagaimana cara untuk tidak jatuh cinta?

Beri jeda waktu sebelum melakukan penyuntingan. ‘Fermentasikan’ naskah selama 5-7 hari (atau minimal 3 hari jika waktunya terlalu sempit). Boleh lebih lama jika tenggat waktu masih cukup longgar. Jeda inilah yang akan memampukan kita melihat tulisan secara lebih objektif.

3. Saat menyunting, baca keras-keras kalimat yang sudah ditulis. Hal ini dapat membantu kita menyadari jika ada bagian yang terasa janggal.
Penyuntingan bukan sekadar melakukan hal-hal teknis, tapi juga harus melibatkan rasa.

4. Jangan simpan sendiri tulisanmu. Berbagilah dengan orang lain, tidak perlu malu. Dengan cara ini, boleh jadi kamu akan mendapatkan banyak masukan.
Kamu bisa menceritakan ulang secara lisan atau mencari beberapa pembaca pertama dan meminta pendapat dari mereka. Tanyakan hal-hal yang spesifik, bukan hanya, “Gimana? Bagus, nggak?” 
Kalau perlu, buat kuesioner untuk memastikan mereka memahami apa yang disampaikan. Jangan sampai kamu ingin mengatakan ‘A’, tapi mereka malah memiliki asumsi berbeda.

Catatan untuk poin ini:
Carilah pembaca yang objektif. Jangan tunjukkan tulisanmu pada orang yang hanya akan memberi pujian atau orang yang pasti menghujat.

5. Saat menulis, bebaskan apa pun yang ada dalam pikiran. Banjiri tulisan dengan kosakata sebanyak dan sevariatif mungkin. Ketika tiba saat menyunting, lakukan hal sebaliknya. Pangkas tulisan jadi seramping mungkin. Buat setiap kalimatmu terasa seperti quote.

6. Jadilah raja tega. Jika kamu menghilangkan satu bagian, tapi keseluruhan tulisan ternyata baik-baik saja, bagian itu mungkin memang tidak perlu ada. Hapus saja. Kadang memang berat (banget!) karena kita memiliki personal attachment pada tulisan sendiri. Namun, ada satu hal yang perlu diingat: naskah tebal belum tentu bagus, naskah tipis juga tidak selalu jelek. Naskah tipis yang padat masih lebih baik daripada naskah tebal yang bertele-tele.

7. Last but not least, tidak harus menjadi seperti Ivan Lanin, tapi jangan pernah bosan membaca PUEBI dan KBBI. Selalu cek apakah cara penulisan sudah sesuai dengan kaidah yang ada. Pastikan kata-kata yang digunakan benar dan baku.


Sesekali, boleh saja melanggar aturan penulisan karena satu atau lain pertimbangan. Namun, jika memang ingin melakukannya, pastikan untuk melanggar dengan sadar, bukan melanggar karena tidak tahu.

Swasunting berlaku untuk semua jenis buku. Apa pun.
Sajak, Puisi, Novel, Fiksi, Nonfiksi, Biografi... semuanya.

Swasunting dimaksudkanukan hanya untuk mengoreksi kata baku/tidak baku.
ini juga berlaku untuk merampingkan tulisan, membuang bagian-bagian yang tidak perlu, memperbaiki tata bahasa, dan lain-lain.


*Sumber : Materi dari mba Ratri Dwi Kayungyun (editor, writer mentor)

Selasa, 08 Mei 2018

Tips Brainstorming Ide Cerita Bagi Pemula

tips ketika ketemu ide

Kalian pasti pernah mengalami yang namanya dapat ide, lalu pas mau ditulis hilang? Nah, begitupun saya. Sering kali ide-ide itu datang di saat yang tidak tepat ehehe. Namun, bukan berarti ide tak menyebar. Sebenarnya saya kesel kalau ada yang bilang, nggak ada ide nih atau belum ketemu ide.

Plis, gaes ... ide ada di mana-mana. Dari barang dan hal sekecil apa pun, ide itu pasti tercipta. Tapi kalau emang kalian lagi stuck, istirahatlah. Coba refresh sejenak pikiran kalian biar ide itu lebih mudah masuk. Yuk, langsung aja kita pembahasannya:


1. Saat ketemu ide
Tentukan kamu mau pake pov berapa.
Pov 1
Ini seperti kamu menulis diari

Pov 2
Kamu seperti Tuhan

Pov 3
Kamu bebas mau jadi apa aja
Di banyak tokoh (lebih dari 1 tokoh)

Mantapkan pov nya dulu


2. Tentukan setting
Setting ini Bisa aja waktu, Bisa aja lokasi.

Misal,
Mau dibikin setting sepanjang siang kah

Atau
Setting di pantai
Dan kalian lukiskan dengan segudang diksi seputar pantai


3. Alur
Mau pakai alur apa

Majuuuu
Mundurrrr (gagal move on)
Maju mundur (pastikan perpindahannya jelas)


3 itu utama yang kudu kalian renungkan. 3 itu mantap

Perkara kerangka
Sinopsis
Apa pun

Ngalir aja

Ini versi artikel di luar ya
Saya baca dari aplikasi medium


Setting yang didasari waktu

Perbandingan cerpen dan novel adalah 1:3


Protagonis

Ini tokoh utama (umumnya begitu). Protagonis itu tokoh yg pro terhadap alur, memang kebanyakan baik tapi itu bukan patokan. Karrna prosa adalah main character


Dialah yang menentukan akan dibawa dan akan diselesaikan bagainana konfliknya. Protagonis ini tokoh utama
Alias pemegang cerita.

Buat ketegangannya dalam waktu tak lama. Untuk membangun ketegangan

Buat pertanyaan dari.kisahmu sebelum.masuk pada ketegangan. Saat seperti ini

Buat banyak pertanyaan
Posisikan sebagai reader. Posisikan dirimu sebagai si tokoh.

misal,
Apa dia marah kalau aku menolak.
Imajinasikan. Apa pun.jawabanmu
Itulah jalan ceritanya


Hanya ada dua gagasan ending untuk cerpen:

1. Tuntas dengan kejutan
2. Tanda tanya


Tips bikin plot twist
Pilih ya

1. Datangkan tokoh baru tak terduga.
Tokoh baru ini harus punya peran penting di dekat ending

Dan bisa jadi
Dialah si penyelesai masalah


2. Bangun setting baru


3. Jadikan yang tak berguna menjadi penting. Tidak hanya tokoh ya. Prilaku tak penting
Jadikan kunci

misal,

Si tokoh suka membawa diari dan menulis. Si tokoh suka membawa diari dan menulis. Di ending
Taunya itu buku isinya draft cara membunuh. Tapi
Fokuskan cerita pada yang lain. Abaikan ttg si buku
Kecuali saat akan dibikin twist. Cukup sesekali saja gambarkan tokoh dengan bukunya





CATATAN 3
Tips Brainstorming Ide Cerita

Dalam bahasa Inggris, brainstorm memiliki makna ilham. Sedangkan, brainstorming bermakna pengungkapan pendapat. Dalam hail ini, brainstorming ide cerita adalah metode pengumpulan ide untuk mendapatkan satu cerita yang utuh.

Banyak penulis tidak sadar bahwa metode brainstorming sangat penting ketika memutuskan memulai menulis cerita baru. Brainstorming sangat berguna untuk menjaga ambisi agar tetap fokus pada poin-poin utama cerita hingga bisa menyelesaikannya sesuai struktur yang telah disusun sebelumnya hingga akhir. Seringnya, di tengah jalan penulis diinterupsi dengan ide atau imajinasi lain di luar ide asli.


Tips brainstorming:

1. Persiapan
Sebelum bersiap untuk brainstorming ide cerita, persiapkan terlebih dahulu hal yang nanti akan menuntun mencari ide. Seperti misalnya, genre apa yang ingin dituliskan, apakah teenlit, chicklit, young adult, fantasi, historical romance, horor, misteri, dsb. Berikan alasan kenapa ingin menulis genre itu.


2. Perhatikan sekitar.
Ide ada di mana-mana. Bahkan, dimulai dari bangun tidur, ide sudah bermunculan di sekitar. Hanya saja, apakah kepekaan kita bisa menangkap sinyal ide tersebut? Latihlah kepekaan untuk bisa melihat apa yang kamu lihat, mendengar apa yang didengar, dan mengingatnya dengan baik. Suatu saat, ketika sedang merenungkan cerita di sela-sela menulis, apa yang dilihat tersebut akan berguna menjadi bagian dalam cerita. Nyatanya, beberapa persen dari cerita fiksi adalah hasil dari memori pribadi penulis.


3. Selalu membawa buku catatan.
Ide selalu datang tak terduga kapan pun dan di mana pun. Di toilet ketika sedang mandi, di dapur ketika sedang memasak, di kantin kantor saat sedang makan siang, dsb. Selalu siaplah menangkap ide yang datang karena ide pergi secepat ia datang. Ide bisa saja diingat saat ini, tapi beberapa menit kemudian ide akan terlupakan begitu saja. Kalau membawa note saja repot, gunakan aplikasi yang ada di ponsel untuk mencatat apa pun yang datang dalam pikiran. Seperti misalnya aplikasi evernote, WPS, atau bahkan keep di line.


4. Buatlah daftar beberapa ide.
Hampir sebagian besar penulis tidak akan berhenti hanya dengan satu ide saja. Meski ide itu datang tiba-tiba di tengah tengah merenungkan ide lain. Membuat daftar beberapa ide yang muncul hampir bersamaan akan membantu mengidentifikasi ide cerita mana yang memungkian dan paling berpotensial untuk dikembangkan menjadi sebuah cerita. Buatlkah daftar dan baca lagi keseluruhan ide yang didapat, lalu renungkan ide mana yang bisa dipakai.


5. Ingatlah, tidak ada kata "ide buruk".
Semua ide yang bisa dikelola menjadi sebuah cerita adalah ide yang patut untuk dipertimbangkan. Ide yang dilabeli buruk bukan berarti memang benar-benar buruk. Hanya saja, ide itu perlu diperkuat kehadirannya dengan mencari alasan kenapa ide itu ada dan ditunjang dengan riset.


6. Beri alasan ide yang digunakan.
Setiap ide yang hadir dan masuk pertimbangan untuk dikembangkan memiliki alasan. Seperti misalnya, mengikuti tren pasar. Sebagian kecilnya, penerbit memang selalu menilai cerita yang akan dilamarnya berdasarkan pasar yang sedang tren kala itu. Tapi, tidak juga mengesampingkan faktor keunikan ide yang digambarkan penulis dalam ceritanya. Secara umumnya, alasan itu yang muncul ketika ide diciptakan. Nyatanya, alasan itu tidak bisa membantu banyak.
Seperti yang dijelaskan di materi Ide Cerita. Carilah alasan ide dari strukturalisme cerita. Contohnya, ide itu dipakai karena ingin mencapai tujuan karakter untuk menyelesaikan masalah tertentu. Atau ingin memecahkan konflik yang saat ini sedang santer dibahas melalau riset. Atau ingin membuktikan sesuatu yang kata orang tidak bisa dilakukan.
Ketika ide itu memiliki alasan, tidak ada jalan untuk keluar dari fokus cerita yang telah ditetapkan meski ide lain yang bahkan lebih bagus dari ide yang dipakai berkeliaran di pikiran.


7. Berbicaralah dengan teman yang sesuai dengan ide.
Bagian penting lainnya dari brainstorming ide adalah berbicara dengan teman sesama penulis, editor, teman yang memiliki level imajinasi yang sama, orang yang berprofesi sama dengan tokoh cerita yang dituliskan, atau siapa pun yang bisa membantu membangun ide. Utarakan ide yang akan dikembangkan dan mintalah pendapat tentang itu. Bertukar pikiran dengan meraka akan sangat membantu.


8. Temukan cara untuk mencari ide.
Tiap-tiap penulis memiliki cara tersendiri untuk menghimpun ide. Ada yang mendapatkan inspirasi ide cerita hanya dari mendengarkan musik. Ada juga yang menonton film demi mendapatkan ide, berjalan-jalan, membaca buku, atau bahkan hanya dengan melamun saja sudah memunculkan ide. Temukan cara itu yang paling bisa menginspirasi untuk menghimpun ide.


CATATAN 4
BAHASA LISAN DAN TULISAN

Bahasa lisan yang dimaksud adalah kalimat yang diucapkan. Bahasa lisan terbagi menjadi standar dan nonstandar. Bahasa lisan standar contohnya seperti dalam pidato. perkuliahan, ceramah, dll. Sedangkan, bahasa lisan nonstandar contohnya seperti percakapan antarteman, di pasar, dalam kesempatan nonformal lainnya, dan sejenisnya.

Bahasa tulisan bahasa yang tertulis atau tercetak. Bahasa tulisan pun terbagi menjadi standar dan nonstandar. Yang termasuk standar adalah bahasa tulisan dalam buku-buku pelajaran, teks, surat kabar, poster, iklan, dll. Sedangkan bahasa tulisan nonstandar seperti majalah remaja, iklan, poster, dsb.

Dalam bahasa lisan dan tulisan terdapat perbedaan yang mencolok antara sistuasi dan kondisi kepopuleran suatu kalimat dalam masyarakat. Seperti halnya, setiap wilayah suatu daerah memiliki bahasa dan mengucapan terhadap sesuatu yang berbeda-beda.

Ciri-ciri bahasa lisan:
1. Memerlukan orang kedua atau objek lainnya untuk melakukan percakapan.
2. Bahasa yang dipakai tergantung situasi, kondisi, ruang, dan waktu.
3. Tidak harus memperhatikan unsur gramatikal.
4. Berlangsung cepat.
5. Dapat dilakukan tanpa alat bantu.
6. Membutuhkan intonasi, bahasa tubuh, dan mimik wajah.

Ciri-ciri bahasa tulisan:
1. Tidak memerlukan orang kedua atau objek lainnya.
2. Tidak terpaku pada kondisi, situasi, ruang, dan waktu.
3. Harus memperhatikan unsur gramatikal, tata bahasa, dan eyd.
4. Berlangsung lambat.
5. Selalu memakai media, seperti, buku catatan, komputer, atau media elektronik lainnya.
6. Hanya perlu deskripsi untuk menwakili ekspresi intonasi, bahasa tubuh, dan mimik wajah.

Contoh perbedaan bahasa lisan dan bahasa tulisan:
1. Berdasarkan tata bahasa:
Ragam bahasa lisan:
- Ayah lagi baca koran.
- Gorong-gorong itu ada untuk mencegah banjir.
- Saya akan tanyakan soal itu.
Ragam bahasa tulisan:
- Ayah sedang baca koran/surat kabar.
- Gorong-gorong itu dibangun untuk mencegah datangnya banjir.
- Akan saya tanyakan soal itu.

2. Berdasarkan kosa kata:
Ragam bahsa lisan:
- Susi mau beli hape baru.
- Ibu bilang ayah akan pulang telat.
- Kita harus bikin struktur organisasi baru.
Ragam bahasa tulisan:
- Susi ingin membeli ponsel baru.
- Ibu mengatakan ayah akan pulang terlambat.
- Kita harus membuat struktur organisasi baru.



Nah, itulah sekilas tentang ide yang saya bagi. Betewe, materi ini saya gabung dari sesepuh saya, kak See Tea dan kak Gita di grup novel.

Senin, 17 April 2017

MENGHIDUPKAN BAHASA DENGAN METAFORA



Pemateri: Kak @ Akbar Drajat Pratama


Jadi, apa itu metafora?


➡Metafora adalah sebuah perbandingan antara dua benda, berdasarkan pada kemiripan atau kesamaan tanpa menggunakan kata "seperti" atau menyebut sesuatu dengan nama benda lain (Aris Toteles)


Contohnya:
"Ia mengamati gadis itu dengan mata burung pemangsanya"


Dimana bagian metaforanya ?
Bagian metaforanya adalah "mata burung pemangsanya" karena kata "mata burung pemangsanya" ngga mungkin diterapin di manusia.


Atau contohnya kita balik : Elang yang diam merasa belas kasih anak


"Belas kasih anak" adalah metafora. Paham? Jadi kalau kita sebut gini, metafora itu digunakan untuk suatu objek yang berlawan , setuju ?


Fungsi Metafora
1. Metafora menghidupkan bahasa
Jadi metafora itu punya 'power' buat ngerubah segala yang biasa aja jadi aneh dan diterima banyak orang


2. Metafora memungkinkan terjadinya penafsiran imajinatif
Coba bandingkan
"Si marno, sekarang jadian sama orang yang cuek"


Atau


"Setelah beberapa kali putus nyambung, kini marno pacaran dengan kulkas"


Mana yang ngebuat kalian , mikir sesaat pas bacanya ? Yang kedua kan?


Jadi, bisa diartikan seperti ini. Mungkin pasangan terakhir si Marno itu kuat makan dan bisa menampung apa saja, mungkin penampilan fisiknya benar2 seperti kulkas.
Dan di situlah letak "seni"nya. Sebuah "keasyikan" tersendiri bagi penulis ketika pembacanya , jadi mikir2 apa maksud kalimat si penulis.


3. Metafora lebih efisien dan ekonomis ketimbang bahasa sehari2
Kalau istilah Raditya Dika "Kalimatnya jangan nge-boost"


Coba bandingkan:
"Saya berdiam diri di rumah dan tak bisa kemana-mana. Sulit untuk melakukan apapun... Tidak selayaknya anak2 lain yang dengan riangnya berlari di lapang yang luas"


dengan...


"Rumah saya adalah penjara"
Apa kesamaan dan apa perbedaan dua kalimat di atas ?
Intinya gini, menerangkan sebuah kejadian dalam cerita itu bagus, tapi ada kalanya juga dibuat enggak jelas. Biar pembaca mikir, biar pembaca berimajinasi.


4. Metafora membangun makna baru. Memudahkan kita menulis perasaan, pemikiran, sesuatu, pengalaman dan sebagainya yang tidak mudah di jelaskan
Anggap saja ada anak kecil umur 3 tahun, Terus dia ngeliat objek di langit pada malam hari, kira2 gimana cara dia menyampaikan apa yang dia liat ke orangntuanya ?
Misal dia bilang, "Mama, lihatlah itu di langit ada banyak lampu!"
Lampu disana merujuk ke apa? Bintang. Soalnya pake kata 'Banyak'. Biasanya fungsi yang ke empat ini sering di pakai dalam penulisan puisi.


5. Metafora mengisyaratkan kecemerlangan berpikir
Ini karena semakin Jenius seseorang semakin sulit dia menyampaikan sesuatu.
#Bagaimana cara menulis metafora?
Andai kalian membaca metafora seperti ini:
Ayahnya seorang monster. Dia bagai serigala.Itu bisa dibilang cara Tradisional.


➡CARA MEMBUAT METAFORA.
Pertama, sebagai KATA KERJA
contoh : Berita itu membakar mukanya, dan menyapu senyum di pipinya.


➡Kedua, sebagai KATA SIFAT DAN KETERANGAN
contoh : lidahnya yang tajam mencabik cabik perasaanku


➡Ketiga, sebagai FRASE YANG DIDULUI KATA DEPAN
kalau yang ketiga contohnya udah di kasih tau pas awal.
Itu jadi malem ini kita bahas metafora mulai dari definisinya, fungsi dalam cerita, cara nulis metafora


Nb : Kesimpulannya, kalian sendiri yang buat. Soalnya pemahamannya gimana kalian pahamnya.


Mengulang Elipsis bagi Pemula

Hallo, pasti sudah tidak asing lagi dengan elipsis . Setelah kemarin aku post tentang elipsis, asportof dan separator , kini aku bakal m...